Makan Makan
Re-Opening BRC Cafe n Resto di PIK Cakung
Tempat Nongkrong Bergengsi Tapi Affordable di Jakarta Timur
SORE itu, Jumat 13 Februari 2026, kawasan Pusat Industri Kecil (PIK) Cakung, Jakarta Timur, tampak lebih padat dari biasanya. Menjelang long weekend, kendaraan merayap di hampir setiap sudut jalan. Jam pulang kerja memang selalu identik dengan kemacetan, tetapi ada satu titik yang justru dipenuhi semangat baru.
Di tengah hiruk pikuk tersebut, sebuah nama yang tak asing bagi penikmat kopi dan steak premium kembali berkibar: Black Rock Cafe, kini hadir dengan wajah baru sebagai BRC (Black Rock Cafe) PIK Cakung.
Bagi pelanggan lama, tempat ini bukan sekadar cafe. Ia adalah bagian dari perjalanan, tempat bertemu, berdiskusi, hingga merajut mimpi.
Dari Fashion & Coffee ke Rebranding yang Lebih Fokus
Awalnya, Black Rock Cafe berdiri berdampingan dengan bisnis fashion bertajuk Cosmic Fashion di kawasan PIK Cakung. Konsepnya unik—perpaduan gaya dan rasa dalam satu ruang.
Namun pandemi Covid-19 mengubah segalanya.
Usaha yang mulai berkembang itu terpaksa berpindah ke Bekasi. Brand tetap sama, tetapi fokus hanya pada coffee shop dan kuliner. Bahkan sempat membuka cabang di ruko kawasan Pondok Kopi, sebelum akhirnya pandemi dan lockdown membuat ekspansi itu terhenti.
“Baru opening, pandemi datang. Lockdown bikin usaha yang baru mau scale up jadi stuck dan akhirnya merugi,” kenang Nur Fachrudin, CEO Black Rock Cafe, lulusan Teknik Sipil UMJ.
Alih-alih menyerah, ia memilih bangkit. Usaha dibuka kembali dari rumah di kawasan Galaxy Bekasi. Perlahan tapi pasti, pelanggan kembali berdatangan.
“Kuncinya sabar, istiqomah, amanah dan sedekah,” ujar Nur Fachrudin.
Dan kini, atas permintaan pelanggan setia, BRC resmi kembali hadir di PIK Cakung dengan konsep lebih matang, lebih profesional, dan lebih siap bersaing di dunia kuliner Jakarta Timur.
Re-opening BRC PIK Cakung digelar secara sederhana namun sarat makna. Acara diawali dengan kultum oleh Ustadz Fawwaz Abi Zawiyah, pengisi Radio Rasil 720 AM sekaligus pengasuh majelis taklim Bubur Subuh di berbagai wilayah Jabodetabek.
Doa penutup dipimpin oleh Ahmad Syaikhu, tokoh publik dan sahabat lama sang owner. Momen paling menyentuh terjadi saat pemotongan pita dilakukan oleh ibu mertua Nur Fachrudin—sebuah simbol penghormatan kepada sosok ibu yang selalu mendoakan dan mendukung di balik layar perjuangan.
Tidak ada kemewahan berlebihan. Tetapi ada kehangatan, rasa syukur, dan optimisme besar.
Menu Andalan: Steak Tenderloin, nasi daging sapi black pepper & Kopi Juara
BRC bukan sekadar cafe estetik Jakarta Timur. Ia menawarkan kombinasi yang jarang ditemui: steak premium dengan harga terjangkau, nasi daging sapi black pepper yang kaya rasa, serta racikan kopi dari barista profesional.
Ustadz Fawwaz bahkan mengaku sebagai penggemar steak dan nasi daging sapi black pepper BRC.
“Snack sama kopinya juara di sini. Harganya terjangkau banget. Warga Cakung kudu datang ke BRC PIK Cakung,” ujarnya.
Sementara Ahmad Syaikhu menyoroti kualitas menu yang konsisten.
“Cireng bumbu rujak, nasi daging sapi black pepper, sama Steak tenderloin-nya enak. Tapi yang namanya cafe harus coba kopinya juga, karena ownernya barista profesional. Rasanya mantap. Harga sangat terjangkau untuk cafe berkelas begini.”
Dengan bahan premium dan juru masak berpengalaman, BRC berhasil menghadirkan sensasi cafe premium Jakarta Timur tanpa harga yang mengintimidasi.
Vibes Estetik, Live Music & Tempat Nongkrong Nyaman
Masuk ke dalam BRC PIK Cakung, suasana hangat langsung terasa. Interiornya nyaman, luas, dan cocok untuk berbagai aktivitas—mulai dari meeting santai, belajar, kerja remote, hingga quality time bersama keluarga.

Yang membuatnya berbeda adalah live music berkelas yang bisa menerima request lagu. Ini bukan sekadar cafe, tetapi ruang interaksi dan ekspresi.
Bagi pelanggan lama, BRC sudah menjadi “tongkrongan bergengsi tapi affordable.” Tempat yang terasa eksklusif tanpa membuat dompet menjerit.

Perjalanan Black Rock Cafe adalah potret resilience UMKM Indonesia. Dari pandemi, kerugian, hingga bangkit kembali dengan rebranding BRC yang lebih kuat.
Kini, BRC PIK Cakung tidak hanya sekedar comeback. Ia adalah simbol bahwa bisnis kuliner Jakarta Timur bisa naik kelas dengan konsistensi kualitas, pelayanan ramah, dan manajemen profesional.

Dengan permintaan pelanggan yang terus meningkat, bukan tidak mungkin BRC akan ekspansi ke berbagai kota di Indonesia.
Karena pada akhirnya, cafe bukan hanya soal kopi atau steak. Ia tentang cerita, perjuangan, dan mimpi yang tak pernah padam.
Dan di tengah macetnya Jakarta Timur, BRC PIK Cakung hadir sebagai oase—tempat orang berhenti sejenak, menikmati rasa, dan merayakan perjalanan hidup. (mul)








