Features
Nongkrong Budaya: Ruang Baru Peradaban Diluncurkan
LANGIT Ciputat masih menyisakan mendung selepas hujan lebatAhad(01/03/26) sore itu. Jalanan basah, udara lembab, dan gerimis tipis tak menyurutkan langkah para pegiat budaya yang berdatangan ke kompleks Pusdatin Kementerian Kebudayaan. Di ruang yang selama ini lebih dikenal sebagai pusat data dan informasi itu, sebuah gagasan lahir: kebudayaan harus punya ruang untuk berkumpul, berdialog, dan bertumbuh.
Hari itu menjadi penanda peluncuran “Nongkrong Budaya”, sebuah inisiatif yang digagas oleh Titi Widoretno Warisman publik mengenalnya sebagai Neno Warisman. Dengan sederhana namun penuh keyakinan, ia menyampaikan bahwa ruang ini bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan ruang diskusi dan dialog lintas gagasan. “Kita berada di sini untuk memberikan ruang diskusi, dialog, dan berkumpul,” ujarnya. Dengan seizin Menteri Kebudayaan dan Kepala Pusdatin, tempat ini diharapkan menjadi simpul pertemuan para insan budaya dari berbagai latar.
Dalam pembukaannya Plt.Kepala Pusdatin Andi Syamsu Rijal mengapresiasi upaya tersebut dan menyambut Nongkrong Budaya sebagai tempat pertemuan pegiat maupun insan budaya. “Pusdatin merupakan data center kementerian pendidikan dan kebudayaan. Semua data tentang kebudayaan baik yang benda maupun yang tak benda. Dengan sangat senang kami jika khalayak umum dapat menggali kebudayaan bersama kami disini” Ujar pria kelahiran Makassar ini.
Peluncurannya memang minimalis. Tidak ada panggung megah atau tata cahaya gemerlap. Namun justru dalam kesederhanaan itulah maknanya terasa kuat. Bahwa budaya bukan sekadar simbol kedaerahan atau semangat primordial, melainkan kebijaksanaan, kearifan, dan bahasa universal manusia untuk membangun peradaban yang mulia.

Diskusi serambi menjadi jantung acara. Ustadz Muhsinin berbincang hangat dengan Heri Gonku, aktivis ekologis penjaga Setu Pengasinan Depok. Percakapan mengalir dari pro-kontra sejarah Wali Songo hingga mitologi Nyi Roro Kidul. Tema yang berpotensi memantik perdebatan itu justru dikemas dalam suasana harmonis. Moderatornya, Gus Ubed, dengan tenang menjaga ritme dialog agar tetap bernas dan teduh.

Hujan di luar tak mengganggu kehangatan di dalam. Menjelang akhir acara, suasana berubah syahdu. Musikalisasi puisi karya Neno Warisman dibawakan secara spontan, diiringi petikan sape oleh Kang Uyung dari Mahagenta. Nada-nada yang mengalun pelan mengantar pesan tentang luka peperangan dan genosida di Palestina—sebuah refleksi bahwa budaya tak pernah terlepas dari realitas kemanusiaan global.
Puisi dan musik berpadu, menghadirkan doa yang lirih namun kuat: harapan agar dunia tetap damai, dan segala bentuk kezaliman terhapus dari muka bumi.
Saat azan Magrib berkumandang, iftar sederhana telah siap tersaji. Hidangan bersahaja itu menjadi penutup yang hangat. Tuan rumah yang sejak awal berjibaku menyiapkan acara tampak lega. Bukan karena kemewahan, melainkan karena pesan telah tersampaikan.
Di tengah hujan dan kesederhanaan, “Nongkrong Budaya” lahir sebagai pengingat bahwa peradaban besar selalu dimulai dari ruang-ruang kecil—tempat orang-orang berkumpul, berdialog, dan merawat kebudayaan dengan hati.









