Makan Makan
Makanan Legendaris Bogor yang Rasanya Ngalahin Drama PKL
PAGI di sekitar Stasiun Bogor selalu punya dua hal yang susah dipisahkan: manusia bergegas dan perut yang demo minta diisi. Selepas jalan pagi, suara “kroncong” dari lambung seperti ikut jadi backsound tetap lorong stasiun. Orang-orang lalu lalang, langkah cepat, muka setengah sadar, dan aroma makanan mulai menyerbu logika.
Belakangan, kawasan sekitar stasiun terasa sedikit lebih lega. Penertiban PKL liar membuat area yang sebelumnya semrawut perlahan kembali bernapas. Trotoar tak lagi sepenuhnya berubah fungsi jadi lapak dadakan. Pedagang yang memang menyewa ruko akhirnya bisa terlihat jelas tanpa tertutup tenda-tenda liar yang menyesaki jalur pejalan kaki dan merusak wajah alun-alun kota.
Tapi seperti biasa, setiap penertiban selalu melahirkan drama sosial yang nyaris template.
“PKL juga cari makan.”
Kalimat itu sering muncul seperti jurus pamungkas. Seolah begitu diucapkan, semua persoalan langsung selesai. Padahal realitasnya nggak sesederhana itu. Pedagang kecil memang pejuang nafkah. Tapi pejalan kaki juga punya hak untuk berjalan tanpa zig-zag menghindari gerobak. Pengendara punya hak atas akses jalan. Pemerintah juga punya kewajiban menjaga ketertiban, kebersihan, dan estetika kota.
Kalau semua bicara soal hak, pertanyaannya sederhana: hak siapa yang dijalankan tanpa merampas hak orang lain?
Kadang narasi “rakyat kecil selalu dizalimi” dipakai terlalu jauh sampai substansi masalah hilang. Playing victim dan gaslighting sosial jadi pengalih isu yang ampuh. Padahal mengambil ruang publik secara liar tetap saja mengambil hak bersama. Bentuknya beda, tapi substansinya mirip: mengambil sesuatu yang bukan miliknya.
Saya paham betul rasanya jadi pedagang kecil. Pernah ada di fase jualan pinggir jalan. Ketika diminta pindah, ya pindah. Pelan-pelan naik kelas dari kaki lima ke kantin, lalu ke ruko. Memang akhirnya bangkrut juga, tapi setidaknya paham satu hal: jangan cari nafkah dengan mengorbankan hak orang lain.
Dan justru dari hiruk-pikuk kota yang mulai lebih tertib itulah pagi saya berujung pada satu tujuan mulia: semangkuk sop sapi legendaris khas Bogor.
Bukan sekadar sop. Ini nostalgia yang bisa bikin lidah mendadak sentimentil.
Bagi urang Bogor tulen, rasa itu bukan cuma perkara enak atau tidak. Ada memori keluarga di dalamnya. Ada rasa masakan ibu, om, tante, dan para maestro dapur keluarga yang kini satu per satu tinggal kenangan. Di tengah zaman serba instan, rasa seperti ini makin langka.
Jejak rasa itu bermula dari sosok Pak UU sejak era 1960-an. Dulu beliau mangkal di area sekitar BRI dekat alun-alun Bogor, bermula dari jualan sate sapi keliling sebelum akhirnya mendapat tempat tetap di area ruang tunggu pengambilan dana pensiun pada bangunan BRI peninggalan kolonial Belanda.
Dari tujuh anaknya, hanya tiga yang meneruskan warisan rasa itu: Mang Udin (Silahkan klik disini untuk membaca ulasannya), Mang Maman, dan satu adiknya yang tetap berjualan keliling.

Kali ini langkah saya berhenti di warung sate dan sop sapi milik Mang Maman di kawasan Jl. Gedong Sawah 3, tak jauh dari alun-alun Bogor. Sudah sekitar 15 tahun beliau mangkal di sana setelah aturan membuat lapak keluarga mereka bergeser dari area dalam BRI.
Meski lokasi berubah, rasa ternyata tetap keras kepala mempertahankan identitasnya.
Kalau mau ke versi Mang Udin di Paledang dari stasiun harus jalan sekitar 600 meter. Sedangkan versi Mang Maman lebih dekat. Soal rasa? Hampir identik. Bedanya mungkin cuma soal vibe dan preferensi lidah.

Sambil mengipas sate sapi pesanan saya, Mang Maman mulai cerita soal rahasia bumbu kacangnya.
“Kacangnya disangrai tanpa minyak, lalu ditumbuk manual pakai lumpang batu,” katanya.
Metode old school itu ternyata bukan sekadar romantisme dapur tradisional. Ada alasan teknis di baliknya: supaya tekstur kacang tetap kasar dan minyak alaminya keluar maksimal.
Kalau bahasa anak sekarang: chunky dan oily tapi dengan cara yang elegan.
Dan memang terasa beda.
Tekstur bumbu kacangnya khas sate Sunda Priangan: tidak terlalu halus, lebih berkarakter. Berbeda dengan banyak sate Madura yang saus kacangnya cenderung lembut dan creamy.
Begitu gigitan pertama masuk mulut, rasa smokey dari sate sapi langsung nyamber. Bukan gimmick, bukan sugesti. Ada sensasi “sebat” alias sedap berat yang muncul dari perpaduan daging sapi pilihan dan bumbu kacang yang kaya karakter.
Yang paling mengejutkan: dagingnya lembut banget.
Padahal banyak orang menganggap sate sapi identik dengan tekstur alot. Di sini stigma itu runtuh perlahan bersama kunyahan pertama. Tanpa marinasi berlebihan, dagingnya tetap juicy, gurih, dan legit.
Lalu datanglah bintang utamanya: sop sapi.
Kuahnya meledak hangat di mulut dengan dominasi lada yang pas. Rempahnya berani tapi nggak norak. Tidak ada bau amis. Iga sapinya besar-besar kalau kata orang Sunda mah: braradag.
Ini tipe makanan yang nggak perlu validasi food vlogger buat membuktikan kelezatannya. Rasanya sudah cukup bicara sendiri.
Warung Mang Maman buka dari pukul 08.00 sampai 14.00 WIB. Lebih panjang dibanding versi Mang Udin yang biasanya hanya sampai sekitar pukul 12 siang itu pun kalau belum habis. Bahkan saya pernah datang jam 10.30 dan sudah zonk kehabisan.
Jadi buat yang sering gagal kebagian sop legendaris versi Mang Udin, mungkin sudah saatnya melipir ke versi Mang Maman: lebih dekat, lebih santai, dan jam operasionalnya lebih manusiawi.
Pertanyaannya tinggal satu:
Kapan terakhir kali kalian sarapan yang bukan cuma bikin kenyang, tapi juga bikin ingatan pulang?








