Opini

DISIDEN: Diksi yang TIba-tiba Terasa Keren, Liar, dan Perlu Dirawat

Mulyana — Satu Indonesia
29 April 2026 12:13
DISIDEN: Diksi yang TIba-tiba Terasa Keren, Liar, dan Perlu Dirawat
Ilustrasi - Disiden (Foto: Istimewa)

DEZIGH! Tiba tiba ketinju  satu kata yang tiba-tiba memantul ke ruang publik, lalu bergaung di media sosial, meja diskusi, hingga obrolan warung kopi: disiden

Semua bermula ketika Prabowo Subianto melempar candaan ke Rocky Gerung saat acara pelantikan kabinet. Santai, tapi nusuk dikit.

“Wah Pak Rocky ternyata masih disiden.”

Publik ketawa. Rocky ketawa. Netizen langsung mode investigasi: Disiden tuh apaan sih?

Jujur aja, banyak dari kita mungkin lebih familiar sama kata “oposisi”, “pembangkang”, atau “kontra pemerintah”. Tapi disiden punya vibe yang beda. Kata ini bukan sekadar soal beda pendapat. Ada aroma perlawanan intelektual di dalamnya. Ada sikap. Ada harga diri. Ada keberanian buat bilang: “Gue nggak ikut arus kalau arusnya salah.” 

Kalimat itu terdengar ringan. Bahkan jenaka. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Sebab sebuah diksi kadang lebih tajam daripada pidato panjang. Ia bisa membuka pintu tafsir, memantik perdebatan, bahkan menghidupkan kembali istilah yang nyaris tenggelam dari percakapan publik.

Dalam KBBI, disiden diartikan sebagai orang yang tidak sepakat dengan seseorang, kelompok, atau bahkan pemerintah yang dianggap keliru. Kata ini berasal dari bahasa Inggris: dissident.

Dan entah kenapa, di tengah zaman yang semakin penuh manusia “yes man”, diksi ini terasa seksi.

Karena hari ini terlalu banyak orang berubah haluan secepat update trending topic. Pagi idealis, sore jadi buzzer. Kemarin teriak revolusi, hari ini rebutan kursi komisaris. Semua serba cair. Semua serba transaksional.

Di tengah dunia seperti itu, menjadi disiden justru terdengar langka.

Disiden bukan soal hobi membangkang. Bukan juga keras kepala tanpa isi kepala. Disiden yang sejati lahir dari keberanian berpikir dan keteguhan memegang prinsip. Ia tidak mencla-mencle. Tidak lompat pagar tiap musim politik berganti.

Makanya sejarah selalu punya tempat untuk para pembangkang yang menjaga nurani.

Lihat kisah nabi Musa yang melawan kekuasaan Firaun bahkan ketika ia dibesarkan di lingkaran istana itu sendiri. Atau nabi Ibrahim yang menentang Namrud dan tetap teguh meski harus menghadapi api.

Mereka bukan pemberontak kosong. Mereka melawan karena ada nilai yang dipertahankan.

Dan pola itu selalu berulang dalam sejarah manusia.

Di setiap zaman, selalu ada orang-orang yang memilih berdiri sendirian ketika mayoritas tunduk. Kadang mereka dimusuhi. Kadang ditertawakan. Kadang dimiskinkan. Tapi dari merekalah sejarah sering bergerak.

Tentu, menjadi disiden bukan jalan yang nyaman. Sejarah menunjukkan bahwa mereka yang mengambil posisi berseberangan sering kali harus membayar mahal: dikucilkan, dimiskinkan, difitnah, bahkan dihancurkan karakternya. Hari ini kita melihat bentuknya dalam banyak wajah: rakyat kecil yang menolak dibungkam, intelektual yang tetap kritis di tengah ancaman, atau negara seperti Iran  yang berani melawan dominasi imperialis Amerika dan penjajah Israel beserta sekutunya. Seperti Palestina yang tetap melawan penjajah Israel walau dalam keterbatasan.

Tetapi ada satu hal penting yang tak boleh dilupakan: disiden tanpa ilmu bisa berubah menjadi amarah liar. Perlawanan tanpa kebijaksanaan hanya akan melahirkan kekacauan. Karena itu, karakter disiden harus dibangun di atas literasi, kedalaman berpikir, etika dan moral. Disiden tanpa ilmu cuma jadi kebisingan tanpa hasil konkrit. Maka karakter disiden perlu dirawat dengan literasi, kedalaman berpikir, dan akal sehat. Kritik harus punya fondasi, bukan sekadar teriak paling keras di kolom komentar.

Sebab pada akhirnya, menjadi disiden bukan berarti anti-negara. Bukan otomatis kriminal. Dan bukan pula subversif.

Ide tidak bisa dipenjara. Pikiran tidak bisa diborgol selamanya.

Mungkin itu kenapa kata disiden terasa menarik hari ini. Ia mengingatkan kita bahwa manusia masih punya hak untuk berbeda. Masih punya hak untuk berkata “tidak” pada sesuatu yang dianggap salah. Di era ketika semua orang berlomba aman demi posisi, mungkin kita memang butuh lebih banyak manusia yang berani menjaga integritasnya meski harus dicap disiden.

Sejarah selalu membuktikan: setiap zaman akan melahirkan orang-orang yang memilih menjaga akal sehat, bahkan ketika dunia di sekelilingnya sibuk bertepuk tangan pada kekuasaan. (mul)


Berita Lainnya