Opini
IDUL FITRI DI ZAMAN YANG RETAK
Dialog Imajiner dengan Rumi

DI BAWAH langit yang pecah, di mana layar-layar mengalahkan bintang-bintang, aku bertanya pada Rumi: “Bagaimana merayakan Idul Fitri jika jiwa terkurung dalam kode-kode tak kasatmata?”
Dia menatapku, bayangannya terpantul di gawai yang retak: “Setiap piksel adalah jendela. Retakan bukan cela, tapi jalan cahaya untuk Yang Tak Terbatas.”
Zaman Retak: Saat Doa Bersanding dengan Getar Notifikasi
“Mereka menyembah angka-angka,” desahku, “sementara malam seribu bulan dianggap dongeng.”
Rumi menyeruput kopi dinginnya, senyumnya menembus ruang-waktu: “Kapitalisme menjual langit lewat iklan, tapi Lailatul Qadar adalah terowongan rahasia ke Langit Abadi. Tak perlu paket data, cukup air mata.”
Di stasiun antariksa, seorang astronaut tersungkur dalam sujud. Rumi berbisik: “Lihat! Ia sedang mengukur orbit rindu, dzikirnya lebih dahsyat dari tarikan lubang hitam.”
Lab dan Mihrab: Dua Wajah Zaman yang Terbelah
“Apa kata ilmuwan tentang rahasia penciptaan?” tanyaku.
Rumi membuka gulungan ayat suci di layar hologram:
“Setiap debu atom bertasbih, setiap helai DNA menyimpan asma-Nya. Ilmuwan sejati adalah yang menangis di lab, karena melihat sidik jari Ilahi dalam kode kehidupan.”
Tapi manusia sibuk menjadi mesin: “Mereka kira kecerdasan buatan bisa mencipta surga, padahal mesin tak pernah paham getar doa di keheningan fajar.”
Malam Qadar: Menyegarkan Kembali Jiwa yang Lelah
“Kita tersesat antara Mars dan makna,” keluhku.
Rumi mengetuk dadaku dengan ranting zaitun:
“Lailatul Qadar adalah momen refresh: hapus sampah dosa, instal ulang fitrah. Bukan mundur ke masa silam, tapi melompat ke desain awal: manusia yang berzikir dengan segenap energi.”
Di balik deretan kode program, seorang programmer terisak—ternyata ada tulisan “Subhanallah” terselip di antara algoritma.
Fajar Fitri: Menyatukan Kepingan Langit
“Lalu, bagaimana pulang?” tanyaku di ujung senja.
Rumi membuka genggamannya: sebiji kurma dan chip komputer bersinar di telapak.
“Idul Fitri adalah tombol reset: satukan Einstein dengan Imam Ghazali, Elon Musk dengan Siti Hajar. Jadilah programmer yang tahajud, atau astronom yang sujud syukur.”
Di penghujung zaman yang retak, Sang Manusia Sempurna bangkit:
“Memeluk drone sambil berwudhu.
Membaca kode genetik seperti membaca ayat.
Menjadi penjelajah galaksi yang ruku' ke arah kiblat semesta.”
Rumi berbisik: “Langit retak? Justru di situ cahaya Ilahi merembes, dari celah mana saja.”
Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1446 H: Saat Fitrah Menjadi Jembatan Menuju Ilahi
Penulis adalah penulis buku Kosmologi Islam dan pendidik