Features
Neno Warisman Soroti Pentingnya Spiritualitas bagi Wartawan
DI TENGAH rutinitas berita yang tak pernah berhenti, sekelompok wartawan di Kota Depok memilih sejenak menurunkan ritme kerja mereka. Bukan untuk berhenti menulis, tetapi untuk kembali menguatkan makna dari setiap kata yang mereka hasilkan.
Program “Wartawan Mengaji” yang digagas oleh Bidang Kerohanian Persatuan Wartawan Indonesia Kota Depok menjadi ruang refleksi. Selama Ramadhan 1447 Hijriah, para jurnalis berkumpul bukan di ruang redaksi, melainkan di ruang ibadah, melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an secara bergiliran hingga khatam.
Kegiatan tersebut mencapai puncaknya pada Jumat(13/3/26), ketika rangkaian tadarus ditutup dengan khataman Al-Quran, doa khotmil Quran, tausiyah Ramadhan, serta santunan anak yatim di Kantor PWI Kota Depok. Suasana khidmat dan hangat terasa ketika para wartawan menutup kegiatan dengan buka puasa bersama.
Ketika Wartawan Tidak Hanya Menulis, Tapi Juga Mengaji
Koordinator Bidang Kerohanian PWI Depok, Syahruddin El Fikri, menegaskan bahwa keberhasilan program ini bukanlah kerja satu dua orang. Ia menyebut kekompakan para anggota menjadi kunci utama.
Menurutnya, para wartawan mengikuti tadarus dengan sistem bergiliran, masing-masing membaca satu juz Al-Qur’an hingga seluruh rangkaian bacaan selesai menjelang akhir Ramadhan. Program ini bahkan telah memasuki tahun kedua setelah pertama kali digelar pada Ramadhan 2025.
“Ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Ini ruang kebersamaan dan penguatan spiritual bagi insan pers,” ujarnya.
Di tengah tekanan dunia jurnalistik yang cepat dan sering kali keras, kegiatan ini menghadirkan sisi lain dari profesi wartawan: ruang kontemplasi, spiritualitas, dan kepedulian sosial.
Apresiasi dari Tokoh Publik
Kegiatan ini juga mendapat perhatian dari sejumlah tokoh, termasuk penyanyi sekaligus aktivis sosial dan budaya Neno Warisman yang hadir dalam acara penutupan.
Ia mengaku terkesan dengan program tersebut dan menilai kegiatan seperti ini sangat penting bagi para jurnalis.
Menurutnya, seorang wartawan tidak hanya membutuhkan kecerdasan dalam menulis, tetapi juga kedalaman spiritual agar setiap tulisan memiliki nurani dan nilai kemanusiaan.
Baginya, perpaduan antara ketajaman pena dan kekuatan spiritual adalah fondasi penting dalam dunia pers.
“Salut dan keren,” ujarnya singkat saat memberikan apresiasi terhadap kegiatan Wartawan Mengaji di Depok.
Salah satu yang di soroti beliau adalah: “Tulisan memiliki peran penting dalam membangun peradaban suatu bangsa. Tidak ada peradaban besar yang lahir tanpa tradisi menulis.
Semua tergantung pada tulisan. Tulisan adalah buah peradaban. Tidak ada peradaban yang maju tanpa tulisan. Tulisan juga menjadi perekam sejarah sehingga kita bisa melihat kembali kejayaan sebuah bangsa melalui karya yang ditinggalkan,” jelas Neno.
Pers yang Religius dan Peduli Sosial
Ketua PWI Kota Depok, Rusdy Nurdiansyah, juga menilai program ini memiliki makna lebih luas dari sekadar kegiatan Ramadhan.
Selain mempererat silaturahmi antar anggota, kegiatan ini juga menunjukkan bahwa insan pers memiliki komitmen untuk tetap menjaga nilai moral dan keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
Tak hanya berfokus pada ibadah, panitia juga menyisipkan kegiatan sosial berupa santunan kepada anak yatim, sebagai bentuk kepedulian di bulan yang penuh berkah.
Momentum ini menjadi pengingat bahwa di balik berita-berita yang mereka tulis setiap hari, para wartawan juga memiliki peran sosial di tengah masyarakat.
Ketika Ramadhan Menyentuh Dunia Jurnalistik
Program Wartawan Mengaji memperlihatkan wajah lain dunia pers: lebih hangat, lebih reflektif, dan lebih spiritual.
Di ruang yang biasanya dipenuhi diskusi berita dan deadline, kini terdengar lantunan ayat suci. Di tangan yang biasa mengetik laporan investigasi, kini tergenggam mushaf Al-Qur’an.
Tradisi ini diharapkan terus berlanjut setiap Ramadhan, bukan hanya sebagai ritual tahunan, tetapi sebagai upaya menghadirkan pers yang berintegritas, religius, dan berempati terhadap masyarakat.
Karena pada akhirnya, di balik setiap berita yang ditulis, ada nilai yang harus dijaga—nilai kemanusiaan, kejujuran, dan spiritualitas.
Dan mungkin, di situlah makna sebenarnya dari wartawan yang tidak hanya menulis berita, tetapi juga membaca ayat-ayat kehidupan.









