Opini
Suara Perempuan dari Dapur Indonesia Untuk Dunia
ADA satu hal yang sering dilupakan dalam riuh rendah percakapan geopolitik global: dapur. Tempat paling sunyi dalam rumah itu, justru menjadi titik paling jujur dari dampak konflik dunia. Di sanalah, perempuan yang kerap disebut sebagai penjaga peradaban merasakan langsung denyut krisis energi global.
Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut yang jauh dari jangkauan pandangan. Ia adalah nadi. Ia menentukan apakah gas tetap menyala di kompor, atau padam tanpa kepastian. Ketika kapal-kapal energi terhambat, yang pertama kali terasa bukan di meja konferensi para elite, melainkan di dapur-dapur sederhana, tempat ibu-ibu menanak harapan untuk keluarganya.

Perempuan memahami ini dengan cara yang paling konkret. Mereka tidak bicara soal statistik atau grafik ekonomi global. Mereka bicara tentang api yang menyala atau tidak. Tentang harga yang naik atau tidak. Tentang apakah anak-anak masih bisa makan dengan layak hari ini.
Namun persoalan ini tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan sikap politik sebuah bangsa. Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, Indonesia dengan tegas menyatakan bahwa penjajahan di muka bumi harus dihapuskan. Sebuah prinsip moral yang hari ini diuji oleh realitas—terutama dalam konflik yang terus berlangsung di Palestina.
Jika konstitusi bukan sekadar dokumen, melainkan kompas, maka arah kebijakan seharusnya mencerminkan keberpihakan yang jelas. Bukan hanya retorika, tetapi keberanian mengambil posisi dalam pusaran geopolitik global termasuk dalam menentukan aliansi strategis demi menjamin kedaulatan energi nasional.
Di tengah kegelisahan itu, percakapan sederhana saat Lebaran justru melahirkan kesadaran yang lebih dalam. Tiga perempuan, tiga pemikiran besar, bertemu dalam suasana hangat yang penuh makna.
Salah satunya adalah Chusnul Mar'iyah, seorang akademisi dengan pengalaman panjang di luar negeri. Ia tidak hanya berbicara konsep, tetapi solusi konkret: kembali pada kemandirian dasar. Menyiapkan alternatif dapur berbahan kayu, menghidupkan kembali tradisi menampung air hujan, hingga membayangkan sumur timba sebagai antisipasi krisis air bersih. Bagi sebagian orang, ini mungkin terlihat mundur. Namun bagi mereka yang memahami siklus krisis, ini adalah bentuk kesiapsiagaan.
Perempuan kedua, Nurhayati Assegaf, membawa perspektif berbeda namun saling melengkapi. Lewat kiprahnya di dunia UMKM, ia membangun fondasi ekonomi umat berbasis kemandirian perempuan. Bukan sekadar wacana pemberdayaan, tetapi gerakan nyata yang menempatkan perempuan sebagai motor ekonomi berkelas dunia.
Percakapan mereka tidak berhenti pada ide-ide besar. Justru berujung pada kesepakatan yang sederhana namun sarat makna: tidak membentuk partai, tidak mengejar kekuasaan formal. Mereka memilih jalan sunyi bertemu setiap bulan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an. Sebuah bentuk penguatan spiritual yang diyakini menjadi fondasi perubahan yang lebih hakiki.
Di sinilah letak kekuatan perempuan yang sering diremehkan. Kepemimpinan mereka tidak selalu hadir dalam panggung politik yang gemerlap. Ia tumbuh dari empati, dari kepedulian, dari kemampuan melihat masalah hingga ke akar paling dalam.
Dalam dunia yang semakin bising oleh retorika, perempuan menawarkan sesuatu yang berbeda: ketulusan dan ketegasan dalam tindakan. Mereka tidak berhenti pada pidato. Mereka bergerak, bahkan dari ruang paling kecil sekalipun dapur.
Maka ketika dunia berbicara tentang krisis energi, konflik global, dan ketegangan geopolitik, mungkin sudah saatnya mendengar suara dari tempat yang paling jujur: suara perempuan.
Sebab di tangan merekalah, masa depan tidak hanya direncanakan tetapi dirawat, dijaga, dan diperjuangkan dengan nyata.
(Sumber Instagram @nff_nenowarismanofficial)









