Daerah

Ketika Idul Fitri Mengingatkan Kita pada Palestina dan Amanah Pemimpin

Mulyana — Satu Indonesia
20 Maret 2026 11:42
Ketika Idul Fitri Mengingatkan Kita pada Palestina dan Amanah Pemimpin
Situasi sholat Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah 20 Maret 2026 di Cilebut, Bogor (Foto: Satuindonesia.co/Mul)

Gema takbir menggema, mengalun pelan lalu menguat, menembus langit pagi yang masih pucat. Hari itu, 1 Syawal 1447 Hijriah tiba menutup satu bulan penuh ibadah Ramadhan yang sarat makna, penuh pengendalian diri, dan latihan kesabaran yang tak sederhana.

Di Lapangan Tugu Lonceng, Cilebut, suasana berubah drastis. Tempat yang biasanya riuh oleh hiruk-pikuk pasar malam kini menjelma menjadi hamparan ibadah. Terpal-terpal biru terbentang rapi, menjadi saksi bisu peralihan dari hiburan dunia menuju kekhusyukan spiritual.

Satu per satu jamaah datang. Shaf demi shaf terbentuk perlahan, menyatu dalam irama takbir yang terus berkumandang. Suasana terasa syahdu sebuah momen yang hanya datang setahun sekali, ketika umat Islam berkumpul dalam kesederhanaan, tanpa sekat status atau perbedaan.

Shalat Idul Fitri di tanah lapang memang menjadi sunnah yang dianjurkan. Namun, di balik praktik itu, tersimpan pelajaran penting: perbedaan bukanlah alasan untuk saling merasa paling benar. Baik di lapangan maupun di masjid, esensi ibadah tetap sama menghadap Allah dengan hati yang tunduk.

Di Cilebut, Masjid Darojaturrohman salah satu masjid Muhammadiyah secara konsisten menggelar shalat Id di lapangan ini. Tradisi yang bukan sekadar rutinitas, tetapi juga simbol keterbukaan dan kebersamaan.

Ketika imam berdiri, menandai dimulainya shalat, seluruh jamaah larut dalam kekhusyukan. Tak ada gangguan, tak ada kegaduhan. Hanya doa, harap, dan penghambaan yang mengalir tenang.

Namun di tengah ketenangan itu, ingatan melayang jauh ke tanah Palestina. Di saat umat Islam di berbagai belahan dunia bebas melaksanakan shalat Id, saudara-saudara di sana menghadapi pembatasan bahkan pelarangan beribadah di Masjid Al-Aqsa, kiblat pertama umat Islam. Dimana pelarangan shalat Idul Fitri di mesjid  Al Aqsa karena intervensi penjajah teroris Israel secara semena-mena membuat aturan dan umat Islam hanya bisa bersedih, berdoa dan berempati.

Kesedihan itu terasa nyata. Empati mengalir di antara jamaah. Bahwa kebebasan beribadah yang hari ini terasa biasa, di tempat lain menjadi kemewahan yang dirampas.

Saat matahari mulai meninggi, khutbah Idul Fitri pun dimulai. DR. Sulaiman Jazuli, M.E.I., Ketua Laznas Muhammadiyah Bogor, naik ke mimbar membawa pesan yang tak hanya religius, tetapi juga sarat kritik sosial.

Ia membuka dengan kisah Umar bin Khattab seorang khalifah yang dikenal karena keadilannya. Dikisahkan, seorang pedagang dari Persia pernah mengadukan ketidakadilan aparat negara. Umar tak tinggal diam. Baginya, kekuasaan adalah amanah, bukan privilese.

Pesan itu terasa relevan hingga hari ini.

Bahwa pemimpin sejatinya adalah pelayan rakyat. Bahwa kezaliman, dalam bentuk apapun, hanya akan melahirkan penderitaan. Bahkan, kerusakan alam yang berujung pada bencana seperti banjir bandang pun tak lepas dari ulah manusia yang abai terhadap amanah.

Dalam kesederhanaannya, Umar menjadi simbol kepemimpinan yang berpihak pada rakyat kecil. Dan dari mimbar itu, pesan disampaikan jelas: bangsa yang sedang sakit membutuhkan obat dan obat itu adalah iman serta taqwa.

Idul Fitri, pada akhirnya, bukan sekadar perayaan kemenangan. Ia adalah titik refleksi.

Apakah kita benar-benar berubah setelah Ramadhan?
 Apakah ibadah yang kita jalani diterima?
 Atau justru kita kembali mengulang kesalahan yang sama?

Kemenangan sejati bukanlah hari ini. Ia adalah ketika kelak manusia berhasil melewati hisab, melintasi shirathal mustaqim, dan terbebas dari azab.

Maka, jangan tergesa merasa menang.

Karena penilaian sejati masih menanti.

Di ujung khutbah, doa pun dipanjatkan. Harapan disandarkan sepenuhnya kepada Allah. Di antara keterbatasan manusia, hanya doa yang mampu menjangkau langit. (mul)

Taqabbalallahu minna wa minkum. Shiyamana wa shiyamakum. Taqabbal yaa kariim.


Berita Lainnya