Opini
Tantangan Komunikasi Pemerintah di Era Media Sosial
Catatan Rosman Abdullah
PERILAKU masyarakat saat ini telah berubah drastis. Sebagian besar lebih memilih menghabiskan waktu dengan menggeser layar media sosial daripada membaca media berita atau informasi resmi yang mendalam. Menurut berbagai pengamatan, durasi rata-rata penggunaan media sosial di Indonesia mencapai lebih dari tiga jam per hari, sedangkan waktu untuk membaca konten berita hanya berkisar antara 10–20 menit saja. Ini membuat media sosial menjadi ruang utama yang menentukan apa yang diketahui dan dipercaya publik.
Di ruang ini, muncul ketimpangan yang mencolok: akun-akun yang bersifat menyebarkan kebencian, kritikus tajam tanpa dasar, atau yang sering disebut akun haters justru lebih mendominasi algoritma. Algoritma media sosial cenderung mengangkat konten yang memicu reaksi emosional, baik itu kemarahan, keterkejutan, atau perdebatan sengit. Konten semacam itu mendapatkan interaksi lebih cepat dan banyak, sehingga disebarkan ke lebih luas. Sebaliknya, informasi dari akun resmi pemerintah seringkali disajikan dengan bahasa kaku, formal, dan kurang menarik, sehingga interaksinya rendah dan tenggelam di lautan konten lain.
Seperti kata Hitler, kebohongan yang diulang terus menerus (propaganda) akan menjadi kebenaran di mata masyarakat. Tentu kita tak ingin Pemerintah makin tidak dianggap dalam hidup bernegara.
Kondisi ini menuntut pemerintah untuk segera mengambil langkah strategis agar dapat menguasai ruang media sosial secara sehat dan kredibel. Kuncinya ada pada cara berkomunikasi. Pemerintah perlu membangun gaya komunikasi yang lebih manusiawi, dekat, dan mudah dipahami oleh semua kalangan. Alih-alih hanya menyampaikan peraturan atau laporan teknis, konten perlu disajikan dengan bahasa sederhana, relevan dengan kebutuhan warga, dan menyentuh sisi empati.
Jika komunikasi terbangun dengan baik dan terasa tulus, maka secara alami akan diikuti oleh peningkatan jumlah Follower, Like dan Share konten. Ketika akun resmi mulai mendapatkan kepercayaan dan interaksi yang tinggi, posisinya di algoritma pun akan naik. Dengan begitu, informasi yang benar, jelas, dan bermanfaat dapat menjangkau lebih banyak orang, sekaligus menyeimbangkan narasi Haters (pembenci) yang beredar di tengah masyarakat. (penulis adalah praktisi media dan komunikasi)









