Opini

Pengaruh Zohran Mamdani di 'Primary Election'

Catatan Shamsi Ali Al-Nuyorki

Shamsi Ali — Satu Indonesia
3 hours ago
Pengaruh Zohran Mamdani di 'Primary Election'
PENGARUH - Zohran Mamdani, 34 tahun, imigran Muslim yang sebelumnya hanya punya popularitas 1%. Kemudiannya menggemparkan bukan hanya NYC, tapi Amerika dan dunia.

SELASA, 23 Juni 2026, Kota New York menggelar “Primary Election”, pemilihan pendahuluan, Partai Demokrat untuk menyaring calon-calon yang akan maju di pemilu umum November mendatang. Calon untuk jabatan kota, negara bagian, maupun federal yang menang di tahap ini hampir pasti melaju memenangkan, karena NYC memang adalah basis Demokrat yang sangat kuat.

Yang membuat primary kali ini istimewa adalah bayang-bayang pemilihan wali kota sebelumnya. New York baru saja memilih Zohran Mamdani, 34 tahun, imigran Muslim yang sebelumnya hanya punya popularitas 1%. Kemudiannya menggemparkan bukan hanya NYC, tapi Amerika dan dunia. “Mustahil seorang Muslim menang di kota dengan populasi Yahudi terbesar di luar Israel,” kata banyak kawan saya dari luar negeri. 

Gema kemenangan itu ternyata masih terasa. Ia ikut membentuk nada dan arah primary 23 Juni ini. Ada 3 hal penting yang terlihat dari pemilihan kali ini. 

Pertama, fondasi Status Quo Mulai Retak. Kemenangan Mamdani tanpa restu “political establishment” Demokrat sudah jadi bukti: zona nyaman para petahana mulai retak. 

Zona nyaman itu terutama soal relasi dengan pemilik modal dan lobi politik. Selama ini banyak politisi merasa aman karena dana kampanye tak terbatas dari oligarki, dengan imbalan kebijakan publik yang menguntungkan mereka. Lobi terkuat di antaranya adalah lobi Zionis Israel, AIPAC.

Primary NYC kemarin, setelah pemilihan wali kota, menampar pola itu. Politik uang dan lobi oligarki mulai ditantang terbuka.

Kedua, Zohran Mamdani: The King Maker. Popularitas Mamdani justru melesat pasca terpilih. Ia berhasil meredam kemarahan dari beberapa pihak, khususnya dari oligarki, sebagian elit Demokrat, kelompok anti-imigran, hingga pendukung zionisme, baik Yahudi maupun non-Yahudi. 

Dan yang menakjubkan ia tidak merespons dengan retorika, tapi kerja nyata. Janji kampanye ditepati, termasuk “keajaiban” menutup defisit anggaran $12 miliar warisan wali kota sebelumnya. Itulah yang membuatnya dipercaya dan semakin populer. 

Wajar jika banyak yang menduga endorsement Mamdani akan banyak menentukan hasil primary. Dugaan itu terbukti. Tiga calon anggota Kongres yang ia dukung, semuanya menang. Dua diantaranya menumbangkan petahana kuat:

Brad Lander adalah mantan rival Mamdani di primary walikota, lalu jadi pendukung utamanya di pemilu umum. Ia menumbangkan Rep. Dan Goldman, petahana NY-10 Lower Manhattan + Brooklyn Barat, dengan selisih telak.

Claire Valdez adalah anggota State Assembly dan pendukung militan Mamdani. Ia mengalahkan Antonio Reynoso, Brooklyn Borough President yang didukung banyak tokoh Demokrat, untuk kursi kosong NY-7 Brooklyn-Queens.

Darializa Avila Chevalier adalah Muslim mualaf keturunan Hispanic-Haiti, dan sangat muda. Ia mengalahkan Rep. Adriano Espaillat, petahana 30 tahun dan ketua Congressional Hispanic Caucus, di NY-13 Harlem-Bronx.

Media menyebut malam ketika establishment Demokrat resmi menyerah pada Zohran Mamdani. Bahkan Hakeem Jeffries, Ketua Demokrat di Kongress sampai bernegosiasi agar tidak menjadi target berikutnya.

Di tingkat State Senate, kandidat binaan Mamdani, Aber Kawwas, juga menang signifikan melawan Steven Raga. Aber, perempuan keturunan Palestina yang dulu sering ke Masjid Al-Hikmah New York, dikenal berani. Dialah yang melobi Mamdani saat masih anggota Assembly untuk mensponsori resolusi “Not a dime from our money”: hentikan dana AS untuk genosida Israel.

Ketiga, AIPAC, Israel, Genosida Gaza & ICE Jadi Isu Utama. Ciri khas semua calon dukungan Mamdani adalah mereka menjadikan AIPAC, Israel, dan genosida Gaza sebagai poros kampanye. Semua menolak dana dari AIPAC dan lobi berkepentingan khusus. Semua menyebut aksi Israel di Gaza sebagai genosida. Semua menyerukan pembubaran ICE, polisi imigrasi yang memburu pendatang tanpa dokumen.

Semua ini merupakan efek langsung dari kemenangan Mamdani. Di masa lalu  mengkritik Israel dianggap “bunuh diri politik”. Demikian pula hampir semua politisi ingin mendapat dukungan dari lobi politik Zionis Israel AIPAC. Kini politisi yang mendukung genosida Israel dan menerima dana AIPAC justru dianggap memalukan (embarrassment). 

Kawan Brad lander, Goldman misalnya, diserang habis-habisan karena menolak melepaskan dukungan AIPAC. Dalam pidato kemenangan, Lander tegas: “Saatnya Partai Demokrat menjauh dari uang gelap, PAC kripto, Wall Street, AI, dan AIPAC.”

Bahkan Mamdani di rally 18 Juni lalu menyebut AIPAC “monster” yang menebar jutaan dolar uang gelap untuk memecah kelas pekerja. Ia dikecam ADL & AJC karena dianggap antisemit, tapi Mamdani justeru membalas dengan kutipan Gramsci: kematian ribuan warga Gaza pasca-gencatan senjata adalah akibat politisi yang “terbeli” lobi zionis.

AIPAC juga menggelontorkan lebih $600 ribu untuk Espaillat, tapi tetap kalah dari Avila Chevalier. Pola yang sama terjadi di New Jersey: dr. Hamawy, dokter keturunan Mesir yang pernah bertugas di Gaza, menolak dana AIPAC dan kini hampir pasti jadi anggota Kongres.

Masa Depan Partai Demokrat & Politik AS

Dari dinamika ini, ada 3 pergeseran besar yang akan terjadi:

1. Sosialis Demokrat naik daun. DSA kini punya tambahan anggota Kongres. Platform mereka: rumah terjangkau, bus gratis, anti-ICE, hentikan bantuan ke Israel, bersihkan politik dari lobi berkepentingan termasuk AIPAC. Platform ini makin digandrungi politikus muda.

2. Gaza jadi garis patahan baru Demokrat. Pemilu berubah jadi referendum soal genosida Gaza. Pemilih muda dan imigran menolak politik luar negeri Demokrat yang buta mendukung Israel. Bahkan 67% pemilih Yahudi di bawah 44 tahun memilih Mamdani. Itu sinyal pelemahan politik pro-Israel tradisional.

3. Republik mendapat amunisi. Kemenangan ini akan dipakai oleh Partai Republik untuk membingkai Demokrat sebagai “partai sosialis radikal”. Trump bahkan menyebutnya komunisme. Padahal intinya sederhana: menuntut keadilan sosial bagi seluruh rakyat Amerika.

Kesimpulan

Primary NYC 23 Juni menandai belokan tajam Demokrat ke kiri di basis urban. Mamdani membuktikan mesin grassroot, isu ekonomi dan genosida  Gaza bisa mengalahkan mesin uang AIPAC dan petahana. 

Tapi pertanyaannya: apakah formula ini akan menang di distrik swing pada November nanti? Kita tunggu bersama! (penulis adalah ulama di New York, Amerika Serikat  asal Indonesia,  anggota Tim Transisi Mamdani 2025)


Berita Lainnya