Nasional

PII Beri Rekomendasi Tata Ulang Ruang Hunian

Sampaikan Duka Cita atas Bencana Longsor di Bandung Barat

Redaksi — Satu Indonesia
27 Januari 2026 08:07
PII Beri Rekomendasi Tata Ulang Ruang Hunian
BENCANA - Langkah-langkah darurat yang diperlukan adalah mengevakuasi masyarakat dari zona rentan longsoran.

JAKARTA - Tanah longsor menyusul curah hujan tinggi dalam beberapa pekan di Pasir Langu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, telah mengakibatkan puluhan warga meninggal dunia dan sebagian hilang, belum ditemukan akibat timbunan. Hingga Minggu, 25 Januari 2026, tercatat mencapai 25 orang meninggal dunia, sementara sebanyak 65 orang belum ditemukan. Sedangkan 23 orang ditemukan dalam kondisi selamat sejak kejadian longsor, Sabtu (24/01). Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Dr.-Ing. Ir. Ilham Akbar Habibie, MBA., IPU., ASEAN Eng., menyampaikan duka mendalam kepada warga yang terkena musibah ini. 

“Kami atas nama Persatuan Insinyur Indonesia menyampaikan duka cita mendalam kepada warga terdampak bencana longsor di Cisarua, Bandung Barat. Semoga warga yang masih belum ditemukan segera dapat ditemukan dan dievakuasi. Melalui para ahli di PII, kami juga memberikan beberapa rekomendasi antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya longsor susulan, mengingat hujan dengan intensitas tinggi masih terjadi di beberapa wilayah,” kata Ketua Umum PII Ilham Habibie di Jakarta, Senin (26/01).

Ketua Umum PII Dr-Ing Ir. Ilham Akbar Habibie

Ketua Badan Kebencanaan dan Perubahan Iklim (BKPI) PII Prof. Ir. I Wayan Sengara, MSCE., MSEM., Ph.D.,juga menyampaikan beberapa rekomendasi Langkah-langkah darurat yang perlu dilakukan dan antisipasi bila longsor masih berlanjut. 

“Langkah-langkah darurat yang diperlukan adalah mengevakuasi masyarakat dari zona rentan longsoran baik potensi longsor susulan dengan potensi hujan yg masih akan berlanjut, ataupun pada kawasan lereng dengan tingkat risiko sangat tinggi," kata Ketua BKTI PII Prof. Ir. I Wayan Sengara, MSCE., MSEM., Ph.D., Senin (26/01) di Jakarta.

Menurut Prof. Wayan Sengara, yang juga Guru Besar di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) ITB ini, kejadian longsor ini sepertinya mirip mekanismenya dengan kejadian longsoran di kawasan-kawasan lain selama musim hujan ini. Sehingga adanya rencana pengembangan kawasan hutan pegunungan untuk menjadi alih fungsi, baik untuk perkebunan, pertambangan, maupun pemukiman perlu terlebih dahulu dilakukan kajian risiko secara saksama, khususnya kajian risiko bencana longsor dan banjir. Intinya kelongsoran yg telah terjadi ataupun pengurangan risiko longsor ke depan perlu ditangani secara sistematis dan profesional,” kata Prof. Wayan.

Longsor terjadi pada zona lereng-lereng dengan tingkat kerentanan yang tinggi. Lereng dengan tingkat kerentanan yang tinggi maksudnya adalah lereng-lereng yang berpotensi longsor yang akhirnya memiliki risiko tinggi untuk longsor saat ada pemicu curah hujan yang relatif tinggi. 

“Lereng-lereng dengan tingkat kerentanan tinggi umumnya terjadi pada lereng-lereng yg mengalami alih fungsi dari kondisi stabilnya secara alamiah sebelumnya. Lereng tersebut dulunya memiliki kerentanan yg lebih rendah,  dengan adanya kawasan hutan ataupun vegetasi yang lebih padat dengan kemampuan akar vegetasi yg membantu memperkuat stabilitas lereng dan juga mengurangi kadar air tanah saat hujan,” ujar Prof Wayan.

Selanjutnya menurut Prof. Wayan,  yang terjadi pada lereng dengan tingkat kerentanan tinggi adalah lapisan tanah mengalami penjenuhan air, sehingga otomatis kekuatan tanah menjadi berkurang dari kondisi tidak jenuhnya.  “Mestinya kondisi tidak jenuhnya tanah tersebut perlu dipertahankan karena kondisi tanah tidak jenuh bisa mempertahankan kuat-geser lapisan tanah hingga tidak mudah longsor,” kata  Prof Wayan

Prof. Wayan Sengara, PhD. dan Dr. Surono, DEA.


Sementara itu ahli kebencanaan dan  kegunungapian yang juga Anggota BKPI-PII Dr. Surono, DEA menyebut wilayah Provinsi Jawa Barat tanahnya subur, mudah diolah menjadi ladang pertanian. “Namun daerah perbukitan dengan kemiringan sedang hingga terjal di wilayah Jawa Barat memiliki kerentanan gerakan tanah menengah hingga tinggi. Oleh karena itu pemukiman masyarakat agar tidak dibangun di atas, pada dan di bawah lereng,” kata Dr. Surono, seraya menambahkan bahwa Lokasi bencana longsor di Cisarua, Bandung Barat itu tak jauh dari rumahnya. “Itu tidak jauh dari rumah saya di Bandung. Ada kebun kecil dekat daerah longsor, warga yang membantu mengerjakan kebun saya menelpon saya. ternyata dia sedang membantu mencari korban yang tertimbun longsor,” kata Dr. Surono yang akrab disapa Mbah Rono ini.

Mbah Romo yang baru terpilih menjadi Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) ini,memberikan beberapa rekomendasi untuk mencegah longsor. Yakni bila diketahui ada retakan, sebaiknya segera ditutup dengan tanah dan dipadatkan, agar air hujan tdk masuk kedalam tanah melalui retakan. 

“Bika retakan bertambah lebar dan panjang, segera lakukan evakuasi ke daerah yg aman. Pada daerah dengan kemiringan sedang hingga terjal, apalagi  pernah terjadi longsor, agar ditanami pohon dengan berakar kuat dan dalam untuk menghambat kejadian gerakan tanah atau longsor,” ujar Mbah Rono menyarankan.

Mbah Rono mengutip terdapat beberapa kearifan lokal Jawa Barat yang sangat baik bila diindahkan. Pertama, “pasir diawian”, bukit ditanami pohon. Lebih bagus lagi kalua bila pohon tersebut berakar kuat dan dalam. Kedua, “datar di sawahan”, daerah yang datar dibikin sawah. Sawah pertanian yg menggunakan air. Daerah yg datar relatif stabil dan tidak rawan longsor. Sedangkan air bagian dari pelicin penyebab longsor. Kemudian, “legok, balongan”, cekungan baik untuk dibuat kolam. Suatu kegiatan perikanan yg membutuhkan air, pemicu longsor. Artinya, kolam tidak dibangun di daerah bukit dengan kemiringan tertentu, karena bahaya bisa terjadi longsor. Maka kolam lebih aman dibangun di daerah cekungan. 

“Kearifan lokal Jawa Barat ini sangat bagus, dari sisi keinsinyuran, ini sangat bagus dalam strategi mitigasi bencana gerakan tanah atau tanah longsor. Sehingga menurut saya, daerah bencana tidak layak untuk hunian,” ujar Mbah Rono.

Prof Wayan 


Selanjutnya Prof Wayan menyarankan kejadian longsor di Pasir Langu Cisarua Jawa Barat ini perlu menjadi pelajaran kita bersama untuk ke depan menata ruang hunian ataupun perkebunan secara lebih bijaksana dan lebih profesional dengan memperhatikan aspek-aspek teknis seperti aspek hidrologi, hidrogeologi, geoteknik, lingkungan, dan pengembangan kawasan. 

“Untuk meminimalkan risiko bencana longsor di masa depan, hendaknya perlu dilakukan pemetaan kawasan rawan longsor, mengidentifikasi tingkat kerentanannya dan juga selanjutnya memetakan tingkat resikonya. Dengan adanya kuantifikasi terhadap tingkat risiko tersebut dalam bentuk pemetaan yang sistematis, maka selanjutnya langkah-langkah pengurangan resikonya dirumuskan untuk diimplementasikan sebagai langkah-langkah perlindungan dan peningkatan ketahanan thd potensi longsor kawasan ke depan. Dengan sistematika dan strategi ini diharapkan potensi korban dan kerugian akan lebih rendah,” kata Prof Wayan menambahkan.


Narahubung:

1. Dr. Ir. Teguh Haryono, MBA, IPU, ACPE, ASEAN Eng,. APEC Eng.  Sekjen PII 0857-8224-5142

2. Ir. Santhi H. Serad, M.Sc., IPU., ASEAN Eng. Direktur Eksekutif PII 0818-130-139


Berita Lainnya