Opini

Ramadan sebagai Bulan Transformasi (Bagian IV)

Oleh: Shamsi Ali Al-Kajangi

Shamsi Ali — Satu Indonesia
26 Maret 2024 08:58
Ramadan sebagai Bulan Transformasi (Bagian IV)
Shamsi Ali Al-Kajangi

MANHATTAN CITY, 25 Maret 2024 - Umat Islam meyakini bahwa Islam adalah agama yang mencakup segala aspek dan lini kehidupan manusia. Menyentuh kehidupan material-fisikal, batin-ruhiyah, hingg ke pemikiran dan intelektualitas. Islam juga mencakup kehidupan individual (fardi) dan kolektif (jama’ai). Intinya Islam adalah agama yang “syamil, kaamil dan mutakaamil” (sempurna, lengkap dan saling melengkapi) sebagaimana sering diekspresikan oleh para ulama kita.

Lima: transformasi ‘aqliyah” (pemikiran).

Salah satu hal penting yang menjadi perhatian Islam adalah aspek “‘aqliyah” (pemikiran, intelektualitas dan keilmuan) manusia. Bahkan sesungguhnya sisi ini dalam ajaran Islam bahkan menjadi fondasi bagi semua segmen kehidupan. Bahkan keimanan (keyakinan) pun dalam pandangan Islam mutlak terbangun di atas keilmuan yang benar. Hanya dengan keilmuan yang benar, akidah dan implementasinya dalam ubudiyah dan mu’amalat akan benar dan diterima di sisi Allah SWT.

Di awal seri tulisan ini ditekankan bahwa ‘aqliyah (aspek pemikiran dan keilmuan) menjadi fondasi bagi terjadinya transformasi dalam segala aspek kehidupan manusia. Karena sesungguhnya esensi terpenting dari ‘aqliyah atau pemikiran ini adalah “mindset” (cara pandang) kemanusiaan kita. Dengan cara pandang yang benar akan terjadi upaya perubahan mendasar ke arah kehidupan yang benar pula. Hitam putihnya arah hidup (life orientation) pada umumnya diwarnai oleh cara pandang seseorang.

Salam perspektif Islam sesungguhnya hal ini begitu sesuatu yang baru. Rasulullah SAW sendiri memulai tugas mulia kerisalahan (kerasulan) dengan perintah “membaca” (IQRA’). IQRA’ Yang dimaksud di sini bukan sekadar membaca huruf-huruf dari Kitab Suci (Al-Qur’an). Melainkan “buka pikiranmu, perluas wawasanmu, jauhkan pandanganmu dan perdalam pemahamanmu”.

Dalam dunia keilmuan sebenarnya IQRA’ menjadi fondasinya. Membaca adalah langkah pertama dari perjalanan panjang keilmuan. Maka segalanya bermula dari “bacaan” yang dalam bahasa Al-Quran memakai beberapa bentuk terminologi. Selain IQRA’ juga memakai kata “tilawah” (utlu maa uhiya ilaika min Kitaabi Rabbik). Kedua kata itu memiliki makna “membaca” dengan konotasi yang berbeda.

Kesemua konotasi “bacaan”, baik qira’ah maulun tilawah ini menjadi hal penting untuk ditransformasi di bulan Ramadan ini. Dari membaca huruf huruf-huruf Al-Qur’an, buku-buku dan literasi, hingga kepada pengembangan keilmuan dan pemikiran yang “sophisticated” (canggih). Memang diakui umat Islam mengalami keterbelakangan yang sangat di semua tingkatan “qira’ah dan tilawah” itu.

Secara literasi umat Islam sangat rendah. Dunai Islam masih mengalami “illiterasi” yang sangat rendah. Indonesia sebagai negara Islam terbesar dunia konon kabarnya tingkatan pendidikannya masih sangat rendah. Rendahnya pendidikan itu menjadikan “mindset” (cara pandang) masyarakat sangat pendek (sempit) yang berdampak dalam karakter dan pilihan-pilihan hidupnya. Itu ternampakkan ketika pada pilpres misalnya masyarakat lebih terbuai oleh bansos ketimbang ide-ide besar untuk perubahan yang lebih mendasar.

Secara umum dalam dunia keilmuan dan pemikiran dunia Islam jauh tertinggal. Kerap kali kebanggaan umat menjadi sekadar “historical pride” (kebanggaan masa lalu) semata. Bahwa pernah di masa lalu umat ini mencapai puncak ketinggian dalam keilmuan dan peradaban. Kini dengan segala ketidak senangan umat kepada Amerika dan dunia Barat, diakui bahwa  Universitàs-universitas terbaik dunia maupun research (penelitian) dan inovasi tinggi masih ada di negara-negara itu.

Intinya adalah Ramadan merupakan momen terbaik untuk melakukan perubahan mendasar dalam cara pandang, keilmuan dan pemikiran yang akan berdampak pada karakter dan pilihan hidup kita. Di bulan inilah diturunkan Al-Qur’an sebagai peta perjalanan hidup yang semuanya  bermulakan pada “iqra’” itu. Sehingga bulan Ramadan memang harus menjadi bulan perenungan (reflection) dan perubahan yang mendasar menuju kepada cara pandang, keilmuan dan pemikiran yang lebih berkemajuan.

Hanya dengan transformasi ‘aqliyah umat akan mampu merubah ragam cara pandang yang masih sering terkungkung oleh “rigiditas” yang sangat. Dengan  transformasi ‘aqliyah pula umat akan mampu bangkit dalam keilmuan dan pemikiran yang akan menjadi jalan berkembang suburnya inovasi dan karya.

Ilmu, inovasi dan karya inilah yang disebut “tsamaraat” (buah-buah) keimanan sebagai terjemahan dari Islam yang “rahmah” bagi alam semesta. Semoga!


Berita Lainnya