Opini
Kala Kebaikan Bertemu Menjadi Simfoni nan Harmonis
BUKAN sekadar pertemuan biasa, momen ini adalah sebuah "jembatan kebaikan"begitu Neno Warisman menyebutnya. Ada getaran spiritual yang kuat saat mereka duduk akrab bersama Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, mendiskusikan masa depan seni yang tidak hanya indah, tapi juga bermakna.
Fariz RM: Dari 'Barcelona' ke Tafsir Al-Qur'an
Siapa yang tidak mengenal Fariz RM? Sang "begawan" musik yang telah mewarnai telinga generasi Indonesia selama puluhan tahun ini ternyata sedang menempuh perjalanan sunyi yang luar biasa. Pria yang akrab disapa "Ap" oleh Neno ini. Di sebuah sudut lantai tiga FZ Library yang hangat, waktu seolah berhenti sejenak. Ruangan yang penuh dengan deretan buku dan artefak budaya itu menjadi saksi pertemuan tiga tokoh besar yang masing-masing membawa beban sejarah di pundaknya: Neno Warisman, Fariz RM, dan Tio Pakusadewo. sedang menyusun sebuah karya besar: musikalisasi dari tafsir dan terjemahan Al-Qur’an.
Ini bukan sekadar proyek komersial. Selama beberapa tahun terakhir, Fariz dengan setia mengaransemen sholawat, sebuah bentuk pengabdian kreatif yang mungkin jarang tersorot lampu panggung. Lewat jemarinya, ayat-ayat suci akan menemukan resonansi baru dalam bentuk nada, membawa pesan kedamaian ke dalam ruang-ruang modern.
Reuni Legenda: Tio Pakusadewo dan Estafeta Seni
Di sisi lain, ada Tio Pakusadewo. Aktor watak yang karismatik ini tidak hanya hadir sebagai pelengkap. Ada sebuah benang merah kolaborasi antara dirinya dan Fariz RM yang sempat terjalin 30 tahun silam. Kini, benang itu kembali dirajut.
Sebuah naskah dan skenario baru sedang dipersiapkan, dengan Tio sendiri yang akan memegang kendali di kursi sutradara. Ini adalah sinyal kuat bagi industri kreatif kita: bahwa para legenda tidak pernah benar-benar berhenti berkarya; mereka hanya sedang menunggu momentum yang tepat untuk "meledak" kembali.
Budaya Sebagai Rumah Persatuan
Kehadiran Menteri Kebudayaan Fadli Zon di tengah mereka memberikan sinyalemen penting. Gagasan-gagasan yang lahir dari obrolan santai di FZ Library ini bukan sekadar angin lalu. Neno Warisman menegaskan komitmennya untuk menerjemahkan ide-ide tersebut menjadi program-program yang bermutu.
"Menjadi jembatan kebaikan adalah hal yang sangat sering membimbing saya dalam perjalanan yang fana ini," ungkap Neno dengan penuh syukur.
Pertemuan ini adalah pengingat bahwa seni, agama, dan budaya bisa duduk bersama dalam satu meja, menciptakan harmoni yang mengangkat derajat kemanusiaan. Di tengah hiruk-pikuk dunia, kita butuh lebih banyak "symphoni kebaikan" seperti ini.









