Nasional

Puisi Malahayati Gaungkan Solidaritas untuk Aceh

Redaksi — Satu Indonesia
26 Desember 2025 13:57
Puisi Malahayati Gaungkan Solidaritas untuk Aceh
Neno Warisman saat membacakan puisi Malahayati (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Artis dan aktivis Neno Warisman membacakan puisi Keumalahayati karya Helvy Tiana Rosa dalam peringatan 21 tahun tsunami Aceh yang dirangkai dengan doa bersama bagi korban banjir bandang dan tanah longsor di Aceh. Acara ini berlangsung di Selasar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (26/12/25).

Dengan penghayatan mendalam dan intonasi yang tegas, Neno menghadirkan sosok Laksamana Malahayati sebagai simbol keberanian perempuan Aceh dan keteguhan menghadapi sejarah kelam. Penampilan tersebut semakin kuat dengan iringan musik dari Uyung Mahagenta yang membangun atmosfer dramatik dan reflektif.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) bekerja sama dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Jakpro, dan Desember Kopi Gayo. Selain mengenang tragedi tsunami Aceh 2004, acara ini juga menjadi wujud solidaritas kemanusiaan bagi masyarakat Tanah Gayo yang tengah terdampak banjir bandang dan longsor.

Panggung Selasar TIM dipenuhi ragam ekspresi seni, mulai dari teater, musik, puisi, seni rupa, hingga sastra lisan. Sejumlah kelompok seni turut tampil, di antaranya Symphony Theater Laboratory, Teater Moksa, Sanggar Noer, Teater Petra, Sanggar Matahari, Puisi Perempuan Aceh, RAGA Jazz, Mahagenta, dan Sanggar Pegayon.

Nuansa budaya Aceh kian terasa melalui pembacaan Hikayat Aceh oleh Mahfudh, penampilan Cut Aza Rizka dengan Do Da Idi, serta Didong Gayo, sastra lisan khas dataran tinggi Aceh. Di ruang seni rupa, live painting karya Cahya Friyanto menjadi simbol visual solidaritas dan empati.

Sejumlah tokoh nasional dan pegiat sastra turut membacakan puisi, di antaranya Habiburrahman El Shirazy, Bambang Prihadi, Rita Matu Mona, D Kemalawati, Zulfikar Akbar, Ewith Bahar, Halimah Munawir, Galeh Pramudianto, Eka Ardhinie, dan Putra Gara. Aktor Teuku Rifnu Wikarna membawakan puisi Inilah Aceh karya Fikar W Eda.

Doa bersama dipimpin oleh Ustaz Dr Erick Yusuf, Wasekjen DPP MUI Bidang Seni Budaya, yang menegaskan bahwa seni memiliki peran strategis sebagai medium dakwah kemanusiaan dan penggerak kepedulian sosial.

Selain pertunjukan seni, panitia juga menggelar lelang lukisan, buku puisi, dan naskah sastra. Seluruh dana yang terkumpul akan disalurkan untuk membantu korban banjir bandang dan tanah longsor di Tanah Gayo, termasuk para seniman yang turut terdampak.

Ketua Panitia, Devie Matahari, memastikan bantuan akan diserahkan langsung ke Aceh agar tepat sasaran. Acara ini ditutup dengan pesan kuat bahwa seni bukan sekadar ekspresi, melainkan ruang perjumpaan antara ingatan kolektif, solidaritas, dan harapan bagi Aceh.


Berita Lainnya